IBASA
IBASA

IBASA

“Dengan Bahasa kita genggam dunia”

Berbahasa adalah pokok dari segalanya, media penyampaian sesuatu, prasarana, celaan atau yang lainnya. Illiyyin Berbahasa (IBASA) organisasi yang lahir dengan nama Javanese Corner, terlahir dari arah yang sama dengan IBP dan Alam Taro. Semua berasal dari perintah Abah Yai tentang mengompilasikan bahasa Jawa Kromo dikehidupan sehari-hari, sehingga timbullah ide untuk membentuk wadah guna menampung segala hal dalam berbahasa. Seperti halnya IBP dan Alam Taro, organisasi Javanese Corner ini bersifat mandiri, dengan progam bahasanya, yaitu Arab dan Jawa Kromo, organisasi ini berhasil menerapkan programnya dan mulai terlihat dampak positif di Illiyyin Pasca. Dari sekian program, Javanese Corner berhasil menerapkan program berbahasa Jawa Kromo setiap hari dan itu bertahan selama sebulan.

Pada tahun masa bakti 2020-2021 bersama dengan IBP dan Alam Taro, Javanese corner bergabung dengan Oscamts dengan nama baru, yaitu IBASA (Illyyin Berbahasa). Penggabungan tiga organisasi ini kedalam Oscamts tak terlepas dari usaha agar lebih terorganisir dan rapi merangkul    ketiga organisasi tersebut. Dan dibawah komando Kang Fiyyanur Alfa Iza sebagai ketua Oscamts, Ust Abdussalam sebagai Kepala Daerah, serta Ust Khaeru sebagai pembimbing Oscamts bergabungnya organisasi baru kedalam Oscamts dapat terlaksana.

Periode Irkhamni Wildan Surya N. (2020-2021)

Sebagai ketua IBASA yang pertama (terhitung dari masuknya organisasi ini di naungan oscamts), Kang Irkamni Wildan mulai membangun pilar-pilar dari organisasi IBASA, dimulai dari pemasangan papan berisi kosa kata Arab dan Kromo Inggil. Karena organisasi ini sudah ada sejak lama tetapi baru masuk ke bawah naungan Oscamt belum lama ini, tentu masih menggunakan bahasa yang telah ada sejak awal. Namun tidak menutup kemungkinan adanya bahasa baru yang akan diterapkan. Selain itu, pemberlakuan patroli Bahasa setiap berangkat pesanggrahan, membuat santri juga mau membaca kosa kata, meski dengan hati yang agak terpaksa. Dari sektor perekonomian pula, IBASA mulai berjualan setiap malam jum’at dan akhirnya diikuti oleh organisasi yang lainnya. Atau bisa disebut Ibasa kembali membangkitkan semangat berjualan di malam jum’at yang sempat padam dan vakum. Dagangan yang dijual oleh organisasi ini diantaranya adalah piscok tumpeh, gorengan dll. Dengan Ust Nazwan sebagai pembimbing, Kang Irkhamni berhasil membangun pilar-pilar dari organisasi IBASA dan juga membuat lambang dari organisasi ini .

Periode Lalu Akyasul Fahmi M (2021-2022)

Kali ini nahkoda baru datang, memang benar-benar baru tanpa pengalaman berorganisasi sekalipun di Illiyyin Pasca. Dimulai dari program “Sulis” (Subuh Menulis) nya, ia memastikan pergantian kosa kata setiap dua minggu sekali. Tentu saja dengan beberapa kesalahan, karena bukankah manusia tempat salah dan lupa? Bertanya dengan berpatroli bahasa yang diberi nama ANYA (Aku Nanya Kamu Jawab), program ini berhasil membuat sukses program sebelumnya, karna tujuan awal bukankah agar kosa kata dibaca?. Sebagai program pendekatan diri, dibuatlah program Ireng (Ikhbar Bareng), yang menuntut para anggota agar berkomunikasi dengan setiap orang agar kelak memiliki mental yang cukup kuat. Qouluna (Ucapan Kita) adalah program sekali semasa jabatan, dengan penyebaran kertas/stiker yang berisi Bahasa Arab atau Jawa Kromo, serta gambar yang membuat berbeda. Terakhir organisasi dengan 12 orang anggota ini bersama dengan mukhotimin fathul mu’in telah merampungkan kamus Umdatuna, kamus yang berisi kosa kata sulit Fathul Muin, karya dari Mukhotimin Fathul Muin 2021. Ya tapi meski begitu, organisasi yang dibimbing oleh Ust Zaki Darojatun lalu Ust Mazaya pada saat ini, bisa dibilang mempunyai perkembangan pesat jika dilihat dari masa masa sebelumnya.

Periode Romzah Nuri Tamami (2022-2023)

Program yang ada dimasa Kang Romzah dan Ustadz Abdul Salam ini kurang lebih sama dengan periode sebelumnya. Mereka mengadakan ikhbar setiap malam kamis dalam 2 minggu sekali. Dan organisasi ini mengadakan hari berbahasa yakni setiap hari Rabu dan Kamis. Dan anggota organisasi ini akan berkeliling untuk menemukan para santri yang tidak berbahasa untuk dita’zir secara langsung. Penggantian papan tulis gantung yang berisi mufrodat-mufrodat arab, kromo inggil dan Bahasa Indonesia juga terus dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *