ORA KENO ORA
ORA KENO ORA

ORA KENO ORA

Oleh: Kayfa Avidati Mayla

                Namaku Hilma Afida, orang lain memanggilku Hilma. Nama itu sangat indah, diberikan langsug oleh ayahku. Ayah bilang, artinya: kesabaran dan kelembutan hati. Aku berumur 22 tahun, nyantri di Pondok Pesantren Sabilun Najah yang terletak agak jauh dari rumah. Aku memutuskan untuk menghabiskan waktu dipondok, meski sebenarnya aku cukup berumur untuk sekedar ngaji dan tidak bekerja.

                Pondok Pesantren Sabilun Najah merupakan pondok pesantren yang menyediakakn program hafalan Al-Qur’an. Inilah alasanku ingin nyantri disini, aku ingin menjadi hafidzoh. Cita-cita mulai muncul darii keinginan ayah.

“Ayah ingin punya anak hafal Al-Qur’an, ayah akan sangat bersyukur dan bangga. Tapi sebenarnya ayah tidak menuntut kamu untuk hafal Al-Qur’an. Ayah berharap, Hilma sendiri yang menginginkan untuk hafal Al-Qur’an. Karena sesungguhnya bila hafal, Hilma sendiri yang akan merasakan barokah hafalan tersebut di masa depan. Ayah cukup menyaksikan dengan bangga. Dimasa depan nanti, juga disaat ayah sudah berpulang nanti…” begitu tutur ayah Ketika aku masih kecil. Kata-kata yang selalu kupegang sampai sekarang.

                Karena saat ini liburan pondok, aku memutuskan untuk membersihkan rumah. Setelah selesai, aku beristirahat sambil memainkan HP ku. Aku memasang pesan anonim dicerita Instagram, dan setelah beberapa saat muncul satu pertanyaan.

“Hil! Ceritain suka duka waktu menghafal Al-Qur’an, dong!”

Pikiranku seketika memutar kembali, memoriku beberapa tahun lalu.

                6 tahun lalu, tepatnya setelah aku menamatkan SMP. Aku diantar ayah untuk mulai nyantri di Pondok Pesantren Sabilun Najah. Setelah meletakan semua barang-barangku, aku mulai berpamitan.

“Hati-hati ya Hil! Jaga Kesehatan jangan lupa. Ayah tau kamu pasti mampu. Kan Hilma cewek kuat! Ya kan?” kata ayah. Aku hanya tertawa, sembari melambaikan tangan mengiringi ayah pulang. Sebenarnya kau tidak termauk kategori orang yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Waktu senggang kuhabiskan untuk menulis coretan kata-kata di buku kesayanganku. Suatu hari, teman-temanku penasaran dengan isi bukuku, kemudian mereka membukanya. Terbukalah salah satu halaman yang bertulisakan:

“Untuk diriku, tetap semangatlah

Dikala hidup terus membuatmu Lelah

Sedang dunia memaksamu tersenyum cerah”

Bagiku tulisan itu hanya coretanku saja, namun aku terkejut Ketika mereka begitu menyukai tulisanku “Kok bisa bagu Hil? Keren banget!” “Asli kamu keren banget!” “Tutor dong, tutor!” begitulah, akhirnya aku mempunyai banyak teman, dan aku banyak dikenal orang karena tulisanku. Kegiatan menghafal di pondok sedikit demi sedikit menjadi menyenangkan. Kami setoran di waktu pagi dan malam bersama Ummu Hani, sedangka di siang hari kami berangkat sekolah Bersama-sama.

                Ummu Hani begitu sabar menuntunku hingga aku bisa lancar menghafal. Awalnya bacaanku terlalu cepat dan tidak teratur sehingga aku tidak bisa menghafal dengan jelas. Ummu Hani berhasil membimbingku untuk memperbaiki bacaanku. Suatu hari, ummu Hani pernah member dukungannya padaku

“Mbak Hilma pasti bisa! Ummi senang Mbak Hilma bisa rajin dalam mengaji. Mbak Hilma juga pintar. Semoga Allah selalu beri kemudahan dan kecerdasan pikiran untuk MbaK Hilma….” Tutur Ummi Hani

                Seakan ada mantra tersembunyi, perkataan Ummi membuat semangatku terus menerus bertambah. Tahun pertama nyantri, aku mulai sering menyisihkan waktu luangku untuk menghafal. Berbagai usaha kulakukan, seperti mencari tempat yang sepi di pojok kamar, berusaha terjaga disaat teman-temanku tertidurm menggunakan waktu setelah sholat untuk menghafal, pergi ke sekolah membawa Al-Qur’an, da sebagainya. Sesekali aku menelfon ayah untuk meminta dukungan. Berkat usahaku, aku berhasil menghafal 15 Juz di tahun pertama.

“Hil, kamu keliatan rajin banget? Udah berapa juz?” tanya Kaysa

“Alhamdulillah udah 15 juz, Kay” jawabku

“Subhanallah… cepet banget? Baru satu tahun lho!” sahut Naila

“Gimana tuh rahasianya biar cepet? Iri nih! Haha” balas Kaysa

“Gimana ya? Setia orang punya metode masing-masing untuk menghafal. Kalian cukup mencari metode yang cocok buat kalian masing-masing. Lagipula kata Ummi, menghafal itu jangan hanya niat cepet, tapi juga dengan niat lancar…” kataku

“Iya deh iya. Makanya kasih semangat buat aku dong! Kalau semangat tuh ngajak-ngajak!” teriak Naila. Aku hanya tertawa.

                Tak terasa waktu liburan pondok datang. Liburan ini dimulai dari prtengahan bulan Ramadhan sampai pertengahan bulan Syawal. Waktu pagi tadi, kami sowan Bersama-sama untuk meminta do’a dan ijin untuk kepulangan kami. Malam ini kami menyiapkan barang-barang yang akan dibawa keesokan harinya. Setelah itu kami ergi ke kantor keamanan dengan antusias. Apa yang kami tunggu? Tentu saja pembagian Handphoneku. Aku membuka instagramku, lalu melihat-lihat postingan yang ada di beranda. Belum lama terdapat pesan masuk di Instagramku

@abdullahali._ : “Hil!”

@adullahali._ : “Apa kabar? Besok pulang ya”

Aku terkejut, Abdullah Ali, laki-laki yang aku kenal saat aku lulus SD. Aku mengenalnya Ketika kami tak sengaja bertemu di acara wisudaku. Dia 5 tahun lebih tua dariku, dia berumur 18 tahun saat kami bertemu. Ternyata dia menemani adiknya wisuda, dan adiknya merupakan teman sekelasku, Fauziyah. Bahkan aku mulai akrab dengan Fauziyah saat aku dekat dengan Ali. Rumah kami tidak terlalu jauh, jadi aku sering mengunjungi rumah Fauziyah untuk bermain Bersama. Sesekali aku melihat Ali tertawa melihatku bermain dengan Fauziyah. Terkadang Ali ikut mengajakku bicara. Seiring berjalannya waktu, aku menganggapnya sebagai kakakku sendiri. Sebenarnya aku memiliki perasaan lebih padanya. Namun aku selalu berfikir ulang, “Masa anak SMP suka anak SMA?”

                Belum ada satu bulan, aku kebingungan saat bermain ke rumah Fauziyah dan Ali tidak ada disana. Saat aku bertanya, Fauziyah bertanya

“Mas Ali udah balik pondok”

“Hah? Pondok?” tanyaku

“Iya, Pondok Pesantren Sabilun Najah. Liburan Mas Ali udah selesai” jawabnya. Entah apa yang sedang kupikirkan, setelah pulang dari rumah Fauziyah aku langsung mencari segala hal tentang pondok itu. Dimana tempatnya, program disana, apa yang dipelajari disana, semua yang perlu aku ketahui. Tanpa kusadari, itu juga merupakan salah satu alasan mengapa akhirnya aku memutuskan untuk nyantri di pondok Al-Qur’an tersebut setelah menamatkan SMP.

                Akhirnya aku bisa bertemu dengan Ali setiap liburan pondok tiba. Sesekali ia mengajakku keluar rumah hanya sekedar jalan-jalan atau menemaninya pergi ke suatu tempat. Dia pernah bertanya kepadaku

“Hil setelah lulus SMP mau ngapain?”

“Pengen mondok, bisa hafal Qur’an kayak kamu” jawabku.

“Kok tau aku menghafal Qur’an?” tanyanya.

“Ya… tau aja” sahutku.

“Okelah. Semoga keinginanmu tercapai, ya. Harus semangat terus. Semangat, ora keno ora!” katanya.

Ora keno ora?” tanyaku.

“Iya, itu Bahasa kitab dari kata La Budda, artinya harus. Gak boleh nggak, gitu…” jawabnya.

“Ooh. Makasih ya.” Sahutku. Ia hanya tersenyum.

“Semangat, ora keno ora.” Kata ajaib dari Ali yang bisa membangkitkan semangtku saat aku mengingatnya. Ajaib kan?

                Aku baru sadar, ternyata aku sudah melewatkan 5 menit dengan tidak membalas pesan Ali. Aku langsung mengeti balasan

@hilmaafida : “Hai Ali. Iya aku pulang besok.”

Keesokan harinya, aku dan teman-temanku pulang menaiki bis rombongan yang dibagi per daerah. Sesampainya di rumah, aku disambut hangat oleh ayah dan ibu di depan rumah. Karena liburan ini cukup panjang, aku memutuskan untuk menambah hafalan di rumah. Bersama ayah, aku berhasil menghafal 2 juz di rumah.

                Memasuki hari raya Idhul Fitri, kami sholat berjama’ah di masjid lalu bersilaturahmi ke rumah teangga dan kerabat. Pagi itu, keluarga Fauziyah mendatangi rumahku. Ada Ali juga di sana.

“Oh ini kakaknya Fauziyah? Yang sudah selesai Qur’annya kan?” tanya ibu

“Iya tante, Alhamdulillah.” Jawab Ali

“Kalau tidak salah namanya Ali ya? Ada rencana apa setelah ini?” ayah bertanya

“Iya om, sekarang Ali masih ngabdi di pondok, jadi belum memikirkan rencana lain.” jawab Ali

“Hilma gimana? Udah dapet berapa juz?” tanya Tante Mina, ibunya Ali

“Alhamdulillah baru 18 juz, tante.” Jawabku

“Cepet ya? Calon mantu.” Sahut Tante Mina

Ha? aku sejenak terkejut, lalu ikut tertawa Bersama.

                Setelah beberapa saat, orang tauku dan orang tuanya Kembali membuat forum obrolan, sedangkan Fauziyah Kembali lebih dulu ke rumahnhya karena ada urusan yang ia lupakan. Aku dan Ali berada di teras rumahku. Kami sama-sama terdiam, sebelum Ali tak sengaja melihat casting Handphoneku. Casting berwarna biru tua, berhiaskan hruf sambung bertuliskan “Rasa Pembangkit Asa.” Di ujung tulisan tersebut terdapat tulisan kecil “Ora keno ora” disebelah kanan. Dan ada sedikit glitter berwarna-warni di pinggirnya.

“Rasa Pembangkit Asa?” tanyanyaaku melihat Handhoneku.

“Oh, ini? Aku menulis kalimat itu di bukuku. Aku selalu mengingat perasaan cintaku pada seseorang, dan setelah itu aku bisa membnagkitkan semangatku untuk hal apapun, itu maksudnya” jawabku

“Ayah ibumu kan?” sahut Ali.

“Pasti, tapi ada lagi” kataku.

“Iya, tahu kok” Ali tersenyum. Aku seketika menoleh “Ha?”

Belum selesai aku bertanya, Ali melambaikan tangan menyusul orang Taunya pulang. Ali meninggalkan aku yang sedang berdiri mematung kebingungan.

                Beberapa hari berlalu sampai akhirnya tiba waktu kami harus Kembali ke pondok. Kami Kembali menaiki bis rombongan yang disediakan pondok. Setelah berpamitan denga ayah dan ibu, aku duduk di kursi bis paling depan yang berdekatan dengan jendela bis. Aku terkejut saat melihat Ali tiba-tiba duduk di sebelah sopir. Tak terlintas di pikiranku bahwa Ali akan menjadi kordinator rombongan kami. Saat Ali menoleh ke belakang, ia menatapku dan tersenyum. Aku berpura-pura tidak tau sambil memainkan Handphoneku. Aku membuat cerita di Instagram menggunakan foto jendela bis, lalu aku menulis kalimat

“Untukmu, terima kasih.

Untuk temu yang kesekian kali,

Aku tetap jatuh.”

Belum lama, Ali membalas

@abdullahali._ : “Iya sama-sama, aku juga terjatuh. Haha”

Aku memahami perkataannya lalu tertawa. Aku juga melihat dia sedang menyembunyikan senyumnya. Kami hanyut dalam erasaa masing-masing, hingga panjangnya perjalanan sudah tak kurasakan lagi.

                Sesampainya di pondok, kami melakukan aktifitas kami masing-masing. Aku terus melanjutkan hafalnku hingga akhirnya hafalanku mencapai juz terakhir. Bahkan teman-temanku seperti Kaysa dan Naila juga terkejut seperti halnya aku. Saat aku membaca doa khataman di depan Ummi Hani dan teman-temanku, Ummi Hani menangis sambil tersenyum melihatku. Lalu aku diberi ucapan selamat oleh teman-temanku.

                Malamnya, aku memutuskan untuk menelfon ayah untuk memberi kabar gembira ini. Aku terkejut saat ibu menelfon terlebih dahulu.

“Ayah sakit Hil, sekarang ayah di rumah sakit. Doakan ya” ibu tidak berkata banyak. Akhirnya aku berbicara sebentar soal aku khatam dan langsung ditutup oleh ibu. Belum selesai kekhawatiranku, ada pesan dari ibu esok paginya

“Ayah udah nggak ada, Hil. Yang tabah ya, semoga Khusnul Khotimah.” Seketika aku menangis kencang, mengetahui kabar itu, Ummu Hani memutuskan untuk takziyah sekaligus mengantarku pulang. Naila dan Kaysa juga dimintai Ummi untuk ikut mengantarku. Singkat cerita, kami sampai di rumahku yang saat itu begitu ramai dengan orang yang bertakziyah. Aku memeluk ibu yang menangis, dan tanpa kusadari, Ali, Fauziyah dan kedua orang tuanya datang.

                Tak banyak ceritaku Bersama ayah bahkan sampai akhir hidupnya, dan itu membuatku masih menyesalinya. Bagaimana dengan Ali? Bulan lalu ia melangsungkan pernikahannya dengan Wanita pilihan orang tuanya. Satu hari sebelumnya, ia mengirimkan pesan

“Hil, meski tak bisa menemanimu, aku ingin kamu terus jaga Al-Qur’anmu. Kamu pasti kuat dan hebat, seperti ayahmu. Semangat, ora keno ora!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *