PFA
PFA

PFA

Pasca Footbal Asosiation

“Tubuh Yang Kuat, Terdapat Pada Jiwa Yang Sehat.”

Jasmani dan rohani adalah dua kesatuan yang tak terpisahkan. jika rohani terus diasah dipondok ini, tentunya jasmani tidak bisa dilupakan. PFA (Pasca Football Asosiation), sebuah wadah dibidang sportivitas yang dibentuk pada zaman kepemimpinan Ust. Hadi Ainul Yaqin yang berposisi sebagai ketua OSCAMTS dan Ust. Khanifum Mushoffa sebagai kepala daerah. Pembentukan ini  didasari pada minat santri pondok pesantren darul falah yang banyak berfokus di cabor sepak bola namun belum adanya badan atau organisasi yang mewadahi. Kemunculan PFA didalam badan kepengurusan Oscamts tentunya membuat para penggemar cabor sepak bola di tanah air darul falah ikut gembira, pasalnya, seiring munculnya organisasi di bidang olah raga, akan ikut muncul pula turnamen seperti liga champions tetapi Dalam versi yang lebih sederhana.  Munculnya PFA pula yang kelak akan ikut mempengaruhi pemfokusan beberapa bidang oleh organisasi OSCAMTS saat kepemimpinan Ust. Aziq , seperti dibidang seni dibentuk FANA, bidang juranalistik ada LANSAHABA, dan bidang pendidikan dibuatlah NA.

Periode Gus Fafa (2011-2012)

Sebagai ketua PFA yang pertama kali dan pada saat itu dikomandoi oleh Ainul Yaqin, beliau bersama anggota yang lain berhasil membangun sendi-sendi organisasi ini yang berfokus pada olahraga sepak bola yang kelak akan ada lebih banyak lagi cabor yang dimasukan ke organisasi oleh para penerus. Setelah berpindah ketangan Ainul Yaqin Aminullah (2012-2013), kelak PFA akan diambil alih oleh kang Alpen.

Periode Kang Alpen (2013-2014)

Pada masanya, PFA berhasil mengadakan turnamen berskala besar, sebagai organisasi sepak bola satu-satunya, PFA berhasil mengadakan “Kamila Cup” dengan ruang ligkup satu pondok. Setelah berlalunya periode Kang Alpen yang kemudian diganti oleh Norman (2014-2015) lalu oleh Zuko (2015-2016), PFA kemudian dinahkodai oleh seorang striker terkenal asal Madura.

Periode Ust.Badrus Sholeh (2016-2017)

Disaat dimana PFA semakin berkembang, ditemani Ust.Fikri Nur Imadi dengan anggota PFA yang semuanya terdiri dari para ahli, didirikan lah SSA (Sekolah Sepak bola Amtsilati) yang dipenuhi pemain-pemain berkualitas. Setelah beberapa kali uji coba, Coach Tas’an selaku pelatih, akhirnya ditawari untuk mengikuti LSN (Liga Santri Nasional) di Blora. Meski meraih hasil yang kurang memuaskan (dengan sekali menang dan seterusnya kalah), pengalaman ini mampu menjadi pemacu semangat bagi santri yang lain untuk terus berlatih di SSA dan kelak bisa ikut di turnamen selanjutnya.

Periode Taufiqurrahman / V-Q (2017-2018)

Pada zamannya, dengan ust. Zainurridho sebagai kepala daerah, dan ust. Badrus Sholeh sebagai pebimbing dibuatlah lapangan dibelakang Pasca sebagai tempat bermain bola, yang kemudian dinamakan “Wingking Stadium” , hal ini disambut dengan gembira. Terbukti, berdirinya Wingking Stadium langsung disambut dengan diadakanya turnamen “Pamong Praja Cup” dengan para organisasi Pasca dan Remaja Campus sebagai anggota dan digawangi oleh keamanan Illiyyin.

Periode kang Nur Hidayat /T-pang (2018-2019)

Semasa menjabat, ia tak meneruskan sampai selesai. Setelah Kang T-pang mengambil cuti, Kang Abu Yazid Al-Bustomy sebagai wakil maju meggantikannya. Dizamannya bertambah 1 cabor baru, yaitu Badminton. Tentunya hal ini dibantu Ust. Heru sebagai pebimbing dan para anggota.

Periode Irkhamni Wildan S.N (2019-2020)

Periode ini, dibimbing oleh ustadz berwajah cool tapi berhati lembut dan hangat, yaitu Ust. Abdullah, bertambah lagi cabor didalam program milik PFA yaitu sepak takraw. Hal ini tidak terlepas dari rasa janggal di hati kepala daerah surga Illiyyin saat itu, yaitu Ust. Hizbullah. Dikarenakan semakin berkembangnya ADIDAS (Organisasi Olahraga Asrama Darussalam) dan OFFSET (Organisasi Olahraga Asrama Takhosus), tentu sulit membayangkan jika ketiga organisasi ini mengadakan turnamen secara bersama. Tetapi bersamaan dengan adanya perkembangan, tentu ada beberapa penurunan, seperti rusaknya lapangan di krasak hingga tanahnya anjlok sampai lutut. Dan tentu saja para anggota PFA tak tinggal diam serta tetap berusaha agar lapangan masih bisa dipakai dengan cara menambahi batako di sana.

Periode Shofiyullah (2020-2021)

Masih dengan pembimbing yang sama, idola seluruh santri pasca yaitu Ust. Abdullah, bersama dengan sang ketua kang Shofiyullah menambahkan lagi cabor baru di badan PFA, yaitu volly dan tenis meja. Hal ini membuat PFA menjadi organisasi dibidang olah raga dengan cabor paling banyak, dengan total 5 cabor, berupa sepak bola, badminton, sepak takraw, voli dan tenis meja. Juga pada periode ini diadakan program “Pelatihan Wasit” yang diikuti oleh semua organisasi olahraga di darul falah, Offset, Adidas Dan juga Departemen Menpora.

Periode Sulthon Mahmud A (2021-2022)

Dengan pebimbing yang selalu berganti, dimulai dari Ust. Muiz, lalu Ust. Syifa dan sekarang Ust. Mufti, kang Diki/kaji-sapaan akrab Sulthon Mahmud, berhasil memulai kerja sama dengan ADIDAS dan OFFSET dalam pembuatan BTS (Bani Taufiq Stadium). Dizamannya pula, tercetus pertandingan E-Sport pertama kali dipondok pesantren Darul Falah Amtsilati. Pertandingan itu pada akhirnya dimenangkan oleh tim dari DPR RI/ndalem dapur. Hal ini dikarenakan penggabungan dari segala umur hingga terjadi ketidaksetaraan. Namun bagaimanapun dicetuskanya turnamen ini tentu sangat bermanfaat untuk perkembangan PFA kedepannya.

Periode M Rifki Hidayat (2022-2023)

            Organisasi PFA ini mengalami beberapa perkembangan. Bersama dengan Kang Rifqi Hidayat dan Ustadz Sulthon Mahmud PFA berencana mengadakan turnamen E-Sport dengan game Mobile Legend sebagai intinya. Selain itu organisasi ini mulai menambah cabor Gobak Sodor diLiga Malam Jum’at. Sebagai salah satu partner Menpora dalam melaksanakan Piala Presiden, mereka juga berkeinginan untuk mengadakan Piala Gubernur yang akan dilaksanakan selepas perulangan Maulid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *