ILLIYYIN.INFO
METODE AMTSILATI

METODE AMTSILATI

Mekanisme Pembelajaran Amtsilati dan Kurikulum Pendidikan Darul Falah

Metode Amtsilati merupakan penemuan Kiai Taufiqul Hakim untuk membaca kitab kuning dalam waktu singkat, yakni tiga sampai enam bulan. Tak hanya mengedepankan teori nahwu dan shorof, Amtsilati, di tangan Kiai Taufiq juga dipraktekkan sebagaimana guru mengarahkan murid atas dasar dan kaidah.

 Ajaibnya, meski Amtsilati dipelajari dalam waktu singkat, anak pada usia tingkat pendidikan sekolah dasar (SD) mampu menguasai materi dasar nahwu.

Kiai Taufiq membuktikannya saat melakukan seminar atau demonstrasi bersama peserta didik metode Amtsilati di hadapan wali murid dengan meminta salah satu dari mereka untuk menuliskan ibarot dari kitab yang kemudian diperinci peserta didik melalui pertanyaan dan instruksi Kiai Taufiq serta meminta untuk menyebutkan dasarnya.

Amtsilati pertama kali dicetak dalam tujuh jilid. Kemudian disederhanakan dalam edisi revisi menjadi lima jilid—disertai kitab Tatimmah dan Shorfiah, yang berisi tashrif istiilahi dan lughowi yang dipadukan dengan kaidah I’lal dan diberi pengantar oleh Kiai Haji Moh Ilyas Ruhiyat Cipasung, biasanya digunakan saat jilid empat.

Rumus & Qoidah berisi materi nahwu-shorof, sedangkan 5 jilid Amtsilati bertugas membahasnya lengkap dengan contoh ayat-ayat Al-Quran—beberapa contoh hadits nabi jika tak ditemukan ayat Quran.

Khulasoh Alfiyyah Ibnu Malik, berisi ringkasan nadzam Alfiyyah, berjumlah 184 nadzam, beserta arti pegon dan arti berbahasa Jawa-Indonesia dalam bentuk syi’ir sesuai dengan nadzamnya.

Murid diminta menghafalkan kaidah beserta contohnya dari buku Rumus & Qoidah serta menyebutkan dasar kaidah yang terdapat di Khulasoh sesuai nomor bait dan urutan kaidah.

Setiap jilid dibimbing satu guru—atau jika murid terlalu banyak bisa dibagi sesuai kebutuhan. Cara belajarnya, guru menyebutkan materi, menyebutkan contoh lalu ditiru murid bersama-sama, kadang diminta menyebutkan contoh dan kaidahnya secara bergantian antar murid bahkan pembimbing menanyai materi sebelumnya yang telah lewat.

“Min tanpa harokat dibaca Min menjadi Min. Min adalah huruf jer, bermakna sangking/dari, huruf hukumnya mabni. Kata setelah huruf jer hukumnya jer atau majrur. Dasarnya (nadzam Khulashoh),” begitu kurang-lebih, cara pembelajaran antara guru dan murid.

Amtsilati bersifat fokus, dalam satu hari murid melakukukan empat jam pembelajaran, dua diantaranya membahas materi sesuai jilid oleh pembimbing sesuai kelasnya, selebihnya digunakan untuk menyetorkan hafalan.

Sistem pembelajaran Amtsilati bersifat kompetisi dan kompetensi, di mana murid yang sudah khatam dan menguasai materi dari setiap jilidnya bisa mengajukan tes kenaikan jilid atas rekomendasi pembimbing atau guru. Dan jika lulus akan naik jilid. Hal ini bisa memicu semangat peserta didik untuk mengkhatamkan Amtsilati.

Setelah lulus jilid 5, murid memasuki kelas praktik. Di sini murid dibimbing untuk menerapkan rumus yang telah dipelajari dengan membahas kalimat per kalimat, mulai wazan, jenis, nakiroh-ma’rifat, mufrod-mutsanna-jama, dan seterusnya.

Lebih lanjut, murid diberi latihan untuk menerapkan pembenaran kedudukan dari contoh ayat-ayat Qur’an atau hadits. Menganalisis susunanya—apakah terdiri dari jumlah fi’liyah atau ismiyah, sampai pada akhirnya dicari maknanya dalam kamus—menggunakan kamus Al-Munawir karya Kiai Warson Munawwir atau kamus At-Taufiq, karya Kiai Taufiq sendiri yang dilengkapi bahasa Indonesia-Jawa. Melihat bentuk dan susunan entri-entrinya, tulis Gus Mus dalam kata pengantar, kamus At-Taufiq ini bisa disebut kamus santri.

Kepiawaian Kiai Taufiq dalam membuat terobosan untuk memudahkan dalam membaca kitab kuning, adalah dengan membuat kerangka yang disebut Rumus Utama.

 Rumus Utama:

 Bedakan setiap kata antara:

  1. Isim
  2. Fi’il
  3. Huruf

Bila isim terapkan rumus A1; bedakan antara:

  1. Ma’rifat atau Nakiroh
  2. Mabni atau Mu’rob
  3. Mudzakkar atau Muannats
  4. Mufrod, Mutsanna atau Jamak

Jika sudah dianalisis ciri-cirinya, selanjutnya pada rumus A2 terdapat kategori jenis kata dan fokus pada wazan sebuah kata. Sementara rumus A3 berfokus pada struktur: jumlah ismiyah atau fi’liyah. Hal yang sama juga ditemukan pada rumus-rumus selanjutnya, yakni Rumus B1 sampai B3.

Pada tahap praktik, murid juga menerapkan kitab Tatimmah yang berisi tabel kesamaan bentuk kata dalam bahasa Arab.

Program Lanjutan Amtsilati

Pada 1 Mei 2022, Pondok Pesantren Darul Falah terdaftar secara resmi oleh notaris H. Zainurrahman, S.H.

Nama “Darul Falah” yang dipilih Kiai Taufiq dalam rangka mengenang kondisi rumahnya yang hampir roboh juga sebagai pengingat nama desanya yang dulu menjadi sarang lokalisasi, sehingga secara filosofis nama “Darul Falah” memiliki arti rumah atau desa kemenangan dan keberuntungan.

Tahun 2004 musim haji, Kiai Taufiq bertemu seorang mukimin di Mekkah asal Madura bernama H. Hafiduddin, ia merupakan wali santri yang putranya mondok di Darul Falah. H. Hafiduddin bertanya pada Kiai Taufiq menyoal apa program lanjutan setelah murid dinyatakan lulus Amtsiati.

Pertanyaan tersebut belum mampu dijawab Kiai Taufiq mengingat edisi revisi kitab Amtsilati masih belum selesai sehingga muncul gagasan baru setelah seminggu berikutnya yang juga merupakan hasil mujahadah Kiai Taufiq sebagaimana proses menulis Amtsilati.

Menurut buku Tawaran Revolusi Sistem Pendidikan Nasional: Berbasis Kompetisi dan Kompetensi karya Kiai Haji Taufiqul Hakim, alasan setelah Amtsilati diarahkan mempelajari fan fiqh adalah karena Amtsilati baru taraf membaca bukan kebiasaan membaca.

Hal ini mengemukaan pandangan Kiai Taufiq bahwa setelah peserta didik diberi pengetahuan mengenai tauhid melalui kitab Aqidati—ringkasan  materi tauhid dari kitab Aqidatul Awam selanjutnya mempelajari pasal ibadah lewat ilmu fiqh kemudian diarahkan ke sumber aslinya, yakni Al-Qur’an dan hadits.

Konsep “Pasca Amtsilati” dirancang menggunakan waktu tempuh dua setengah tahun, dengan pembentukan sejumlah fan di antaranya: fiqh, tasawwuf, hadits, tafsir dan komunikasi.

Ahmad Sibawaih, Kholilurrohman dan Fattah menggelar pengajian kitab fiqh Tuhfatut Thulab pada 17 April 2004 kemudian satu minggu setelahnya kitab fiqh Fathul Wahab turut dikaji untuk masuk dalam program Pasca Amtsilati.

Tahun 2006, Kiai Taufiq mengarang kitab mukhtashor—ringkasan kitab Fiqh Tuhfatut Thulab sebuah metode untuk memudahkan santri dalam memahami ilmu fiqh. Kitab ini berisi sepuluh jilid: satu jilid kitab Toharoh, Muamalah, Munakahat dan Jinayat, tiga jilid kitab Ubudiyyah; yang mana semua kitab tersebut sekaligus menjadi kitab pokok pada setiap jenjang kelas atau fan.

Turut disertakan dua kitab hadits, Bulughul Marom dan Riyadhus Solihin sebagai pelengkap serta kitab Tafsir Jalalain dan kitab Mukhtashor Ihya’ sebagai mata pelajaran di kelas tafsir.

Sebagaimana telah menjadi bagian dari jenjang pendidikan dalam program Pasca Amtsilati, pada November 2007, fan komunikasi oleh Kiai Taufiq dijadikan sebuah asrama khusus. Tujuannya untuk memaksimalkan kemampuan berbahasa murid.

Sa’dulloh dan Mukhlis Zainulloh diminta Kiai Taufiq untuk membentuk asrama komunikasi yang kemudian diberi nama “Markazullughoh” sekaligus penambahan pelajaran bahasa Inggris untuk diterapkan sebagai penyempurna.

Tahun 2008 Kiai Taufiq meminta Sibawaih menambah dua kitab fiqh, yakni Fathul Mu’in dan Fathul Qorib agar menjadi kitab pokok selain kitab Mukhtasor sepuluh jilid itu.

Di tahun yang sama izin operasional kelembagaan Madrasan Diniyah Pasca Amtsilati mendapat legalitas dari Kementrian Agama dan lulusannya mendapatkan kesetaraan ijazah jenjang Madrasah Aliyah.

Sistem kenaikan kelas, sampai tahun 2017 menggunakan program ujian tiga bulan sekali (triwulan) di mana selama masa pembelajaran, murid menyimak bacaan guru. Sebaliknya,  guru juga meminta murid untuk membacakan. Begitu seterusnya sampai satu kitab dibahas hingga selesai.

Keinginan Kiai Taufiq untuk menyelaraskan program Madrasah Diniyah dengan metode Amtsilati yang dirancang berbasis kompetisi dan kompetensi berhasil diterapkan pada tahun 2017, di mana seluruh peserta didik yang sedang menempuh jenjang tertentu mengalami perubahan dan penyesuaian.

Kelebihan sistem berbasis kompetisi dan kompetensi ini adalah memicu kesemangatan peserta didik untuk menyelesaikan satu tahapan dengan waktu yang relafit lebih cepat.

Kekurangannya, murid yang tidak bisa menyesuaikan teman satu angkatan akan tertinggal kelas. Akibatnya dampak yang timbul akbat perubahan sistem tersebut adalah meningkatnya jumlah santri boyong.

Menurut data tahun 2017, terdapat sekitar 700 santri yang mengundurkan diri atau boyong dengan berbagai alasan.

Dua tahun setelahnya, 2019. Madrasah Diniyyah Pasca Amtsilati menggelar muktamar pendidikan berisi pembahasan evaluasi berjalannya kegiatan belajar mengajar selama dua tahun ke belakang.

Hasil dari muktamar tersebut adalah bentuk penyederhanaan dari sistem yang sebelumnya disebut berbasis kompetisi dan kompetensi menjadi sistem berbasis kompetensi dan kompetisi.

Alasan lain menyebutkan bahwa pada setiap jenjang belum menemukan titik fokus antara kitab yang dikaji, lebih mudahnya ada sejumlah pelajaran yang tidak relevan dalam satu fan. Misalnya, di fan Toharoh ada lebih dari dua mata pelajaran fan lain seperti Tarikh, Nahwu dan Tauhid.

Melalui penyederhanaan yang baru, ditemukan dalam satu jenjang hanya ada satu pelajaran linier yang difokuskan. Artinya selain fiqih ada satu fan berbeda yang disesuaikan terhadap tingkatannya.