PARADIGMA
PARADIGMA

PARADIGMA

Oleh: Upi

Noor…

Dengan segala jujur dan rindu antara aku dan denyut nadimu,

Dengan bait-bait do’a yang ku haturkan pada tuhan.

Kamu terpilih menjadi pasak untukku bertindak,

Menjadi dalih kalaku merintih,

Dan alasan utamaku Ketika merindu.

Perbendaharaan kalimat tak kuanggap pantas

Menganalogikan eloknya dua sudut bibir indahmu

Kala menyunggingkan senyum.

“Jangan kutulis namamu

Nanti kutakut para huruf membenciku.

Tak mau kulukis rupamu

Aku enggan kanvas-kanvas menghardikku.”

Tapi dengan lantang,

Akan ku proklamirkan segala tentangmu.

Kepada Sang Maestro, kuceritakan bahwa

Senyummu bertanggung jawab atas

Senang dan bimbangku di bumi ini

Noor…

Kawanku bercerita

Dengan kekecewaan ia mampu mengukir

Larik-larik puisi pada sebuah prasasti

Sedang aku,

Dengan rindu yang membuncah

Tak hanya bait puisi yang dapat kubuat

Bahkan…

Akan kupenuhi benakku dengan kehadiranmu .

Rindu adalah guruku,

Yang mengajari lisanku mendo’akanmu.

Rindu adalah guruku,

Yang mendidik pikiranku mengenangmu.

Rindu adalah guruku,

Yang menuntun penaku menuliskan namamu.

Kutulis puisi ini

Dengan kata yang kudidik untuk menggambarkanmu

Kutulis puisi ini

Diantara kesendirian dan kenangan tentangmu

Dan kutulis puisi ini

Karena kamu adalah alasanku merindu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *