ILLIYYIN.INFO
SEJARAH DARUL FALAH

SEJARAH DARUL FALAH

Amtsilati Dua Dekade: Jalan Panjang, Proses Kreatif dan Dinamika Seorang Kiai

Awal tahun 2000-an, seorang alumni pesantren kelahiran Bangsri, 7 Juni 1975 bernama H. Taufiqul Hakim menciptakan sebuah metode cepat membaca kitab kuning 3—6 bulan yang diberi nama “Amstilati”.  Metode tersebut selesai ditulis pada tanggal 27 Ramadhan dengan durasi waktu 10 hari.

Putra bungsu dari tujuh bersaudara pasangan Hj. Aminah dan H. Supar merupakan sosok  yang berasal dan tumbuh dari keluarga sederhana. Ibunya berprofesi sebagai pedagang minyak kelentik atau minyak tanah sedangkan ayahnya hidup sebagai petani.

Sebagai lulusan Perguruan Islam Matholi’ul Falah (PIM) tahun 1995 sekaligus lulusan Pondok Pesantren Maslakul Huda asuhan KH Abdullah Salam dan KH. Sahal Mahfudz, ia dikenal sebagai pelajar  giat serta memiliki kemampuan intelektual yang diperoleh melalui kegemarannya terhadap buku dan keaktifan membaca. Didapatkannya sumber bacaan itu dari perpustakaan Pondok Pesantren Maslakul Huda.

Mengingat kesulitan membaca kitab saat di pesantren karena porsi pelajaran agama yang didapat masa sekolah sebelum mondok sangat sedikit, H. Taufiq harus menghafalkan Alfiyah (Kitab gramatikal bahasa Arab, berisi 1000 bait nadzam) sebagai syarat sebelum masuk PIM. Menurutnya, kitab ini merupakan harga mati yang harus dibayar meski tidak mengetahui  apa fungsi Alfiyah.

Pada kelas dua Aliyah, H. Taufiq baru menyadari bahwa fungsi Alfiyah sebagai pedoman membaca kitab kuning.

“Pengetahuan itu diawali dengan sering ditanyakannya oleh guru kelas dua Aliyah tentang dasar Alfiyah tersebut,” tulis H. Taufiq dalam buku Tawaran Resolusi Pendidikan Nasional: Berbasis Kompetisi dan Kompetensi.

Sehingga didapatinya kesimpulan bahwa tidak semua nadzam Alfiyah secara prioritas digunakan sebagai pedoman membaca kitab (hanya 100 sampai 2000 nadzam) yang lainya memiliki sifat untuk melengkapi dan menyempurnakan.

Tak sampai di situ, pada 1995 setelah kepulangannya dari PIM, H. Taufiq mengalami kebingungan akan melanjutkan ke mana, akhirnya ia memutuskan kembali ke Bangsri bersama Saifuddin, Saiful Ulum, Mahmuddin dan Zainal Abidin untuk bekerja.

Karena empat rekannya itu belum mengetahui kegunaan Alfiyah, H. Taufiq melakukan pembelajaran dengan menulis dan mengumpulkan sampai 150 bait Alfiyah.

Satu tahun setelahnya, Shodiqin dan Nur ikut bergabung dalam pengajian. Keduanya merupakan saudara sehingga Shodiqin kerap memanggil H. Taufiq dengan sebutan “Yi” yang berarti kakek sebagai penghormatan. Mendengar panggilan tersebut murid yang lain ikut turut menggunakan sebutan yang sama kepadanya.

Menurut keterangan buku biografi berjudul “Yai Taufiq” (milik Tim Historilliyyin, arsip Asrama Illiyyin Ponpes Darul Falah) pola pembelajaran yang dilakukan merupakan metode lama: guru menulis di papan sedangkan murid mencatat. Adapun pelajaran yang disampaikan yakni seperti kitab tajwid, nahwu (Jurumiah) dan fiqh (Safinatun Najah)

Merasa kurang dengan ilmu yang dimiliki, H. Taufiq melanjutkan perjalanan keilmuan dengan berguru Thoriqoh An-Naqsabandiyah Kholidiyah di Pondok Pesantren Al-Manshur, Popongan, Klaten, di bawah asuhan Kiai Salman Dahlawi.

Seminggu selepas keberangkatan, Rabani, kakak H. Taufiq menyampaikan kabar bahwa ayahnya meninggal. Keinginan untuk pulang dirasakan demi mengantar sang ayah menuju makam, di sisi lain ia masih harus menyelesaikan tarekatnya. Lagi pula jika dipaksakan sudah tidak ada angkutan. Kesempatan pulang baru bisa terlaksana esok hari.

Seminggu setelahnya, dengan bekal 20 kg beras dan uang sebesar 50 ribu dari warga sekitar, H. Taufiq kembali ke pesantren. Ia bertekad tidak akan pulang sebelum tarekat yang dijalaninya selesai.

Bentuk wirid yang dijalani H. Taufiq adalah dengan melafazkan “Allah” di dalam hati. Sebagai wujud khidmah disertai niat membersihkan hati, pada waktu malam tanpa ada santri yang melihatnya, di pesantren Mbah Salman ini H. Taufiq kerap membersihkan kamar mandi serta mengisi air di ember kosong.

Tujuannya supaya saat santri dan kawan-kawannya bangun mereka merasa bahagia melihat kamar mandi dan pengairan terisi penuh. Selain itu, ia turut membantu pembangunan pesantren sebagai laden (kuli batu).

Di usia 21 tahun, H. Taufiq mengkhatamkan thoriqoh selama 100 hari yang umumnya ditempuh selama 5 tahun. Dirasa aneh, bekal beras yang dimiliki tersisa lebih dari 10 Kg padahal ikut dimakan bersama lebih dari empat orang sementara uang saku yang dibawa tersisa 20 ribu rupiah selanjutnya digunakan untuk ongkos pulang.

Sampai di Bangsri, kampung halamannya, majelis yang sebelumnya berdiri tersisa hanya seorang, yakni Shodiqin. Ia melanjutkan pembelajaran sebagaimana biasanya serta melanggengkan wirid thoriqoh dengan berzikir.

Suatu hari, tetangga H. Taufiq mengalami pingsan dan tak sadarkan diri, dengan izin Allah, seorang tetangganya bisa bangun setelah dibacakan ayat kursi. Di lain waktu, H. Taufiq dengan izin Allah menjadi perantara menyembuhkan seorang anak yang sakit. Dari sinilah murid datang untuk belajar atau tamu berkunjung untuk berobat.

Pada 1996, inisiatif  H. Taufiq membangun gubuk serta memperbaiki rumah tak layak huni yang digunakan untuk belajar mendapati respon buruk dari warga sekitar. Kendati membantu, justru menertawakan dan melemparkan kalimat “mau tidur di mana nanti?” saat H. Taufiq bersama anak-anak membongkar rumah dan membuat gubuk dari pohon jelok yang tumbang sebelum pembongkaran sebagai tiang dan usuk.

Tahun 1997, H. Taufiq menikah dengan perempuan kelahiran Demak bernama Hj. Faizatul Mahsunah yang hafal Al-Quran dan juga alumni PIM. Beliau mengenalnya melalui teman dengan niat khitbah, yang kelak jika sudah memiliki kemampuan ekonomi akan menikahinya. Meskipun telah mengenalnya sejak nyantri di Kajen, beliau belum pernah melihatnya sampai waktu pinangan dan menikah.

Metode lama yang dilakukan H. Taufiq saat mengajar dirasa tidak efektif hingga tahun 2000, jumlah murid selalu berjumlah sembilan meski di antara mereka ada yang keluar dan masuk lagi sebagai murid baru.

Analisa H. Taufiq terhadap materi yang diberikan ternyata mengalami kesulitan. Ada anak yang sama sekali asing dengan ilmu nahwu sehingga tidak menerima pemahaman sedikit pun dari materi.

Mendengar ada metode cepat membaca Al—Qur’an: Qiroati. Muncul sebuah gagasan, kalau Qiroati adalah metode membaca kitab yang ada harokatnya, beliau ingin membuat metode cepat baca kitab yang tidak ada harokatnya untuk dalam rangka mempermudah mempelajari ilmu nahwu. Terbesitlah nama “Amtsilati” mempunyai arti “beberapa contoh dari saya”.

H. Taufiq bermujahadah melalui amalan thoriqoh, yang jika dilakukan secara ikhlas, Allah beri jalan keluar dalam jangka waktu kurang dari empat hari  sejak 27 rajab 1442 H.

Tahun 2001 malam 17 Ramadhan, tepat pada peringatan nuzulul qur’an, H. Taufiq berada di makam Mbah Mutamakkin, Kajen. Dalam keadaan setengah sadar, ia seolah-olah merasa berjumpa Syaikh Muhammad Baha’uddin Naqsabandi (pendiri ajaran tarekat Naqsabandiah), Syaikh Ahmad Mutamakkin (kiai yang makamnya sedang diziarahi H. Taufiq) dan Imam Ibnu Malik (pengarang kitab Alfiyyah).

Dorongan menulis sejak peristiwa yang dialami H. Taufiq di Kajen itu meningkat, sampai akhirnya pada 27 Ramadhan, kitab berisi tujuh jilid dalam tulisan tangan berhasil diselesaikan.

Naskah “Amtsilati” diketik  oleh Subki, Toni dan Marno. Durasi pengetikan naskah berlangsung satu tahun kemudian. Dicetak sebanyak 300 eksemplar untuk diseminarkan pada acara di Gedung NU Jepara pada tanggal 16 Juni 2002 oleh H. Taufiq dan Nur Kholis sebagai pemandu.

Salah satu peserta seminar memiliki inisiatif untuk memperkenalkan metode Amtsilati di Mojokerto. Tepatnya di Pondok Pesantren Manbaul Qur’an, asuhan KH. Abdul Hafidz Muslih. Diketahui peserta tersebut merupakan adik dari Kiai Hafidz.

Tanggal 30 Juni 2002, Amtsilati dicetak sebanyak seribu eksemplar berdasarkan saran dari Syauqi Fadli, donator acara seminar tersebut, dengan alasan selain Mojokerto, Amtsilati turut diseminarkan di Ngabul, Jepara pada peringatan “Hubbun Rosul”.

Dukungan atas metode Amtsilati meluas, terbukti hasil penjualan kitab Amtsilati di Mojokerto mengalami nilai penjualan tinggi daripada saat pertama kali diperkenalkan di Jepara.

Semakin sering forum seminar Amtsilati digelar setelah dari Mojokerto. Salah satunya adalah forum seminar yang diselenggarakan di Universitas Darul Ulum (UNDAR) sehingga ikut mengalir pula dukungan atas metode ini di wilayah Jawa Timur.

Kitab Amtsilati pertama kali dicetak menggunakan mesin fotocopy yang hasilnya digunakan untuk mencetak di percetakan.

Hasil penjualan kitab dari cetakan pertama digunakan untuk membeli mesin cetak seharga enam juta, kemudian mesin cetak itu dijual untuk membeli mesin cetak baru seharga 12 juta guna melayani permintaan cetak.

Semakin banyak permintaan cetak kitab Amtsilati sehingga mengalami kewalahan, dibelilah mesin cetak seharga 40 juta lalu membeli mesin baru seharga 80 juta beserta mesin lain dengan menaikkan 20.000 voltase.

Hingga pada 1 Agustus 2004, Amtsilati berhasil dicetak sebanyak tiga juta eksemplar.

Amtsilati mengalami penyederhanaan dengan dibuat menjadi lima jilid serta penambahan tiga materi di dalamnya: Bab Munada, Isim Ghoiru Munshorif dan Ni’ma Wa Bi’sa.